Hakim Putuskan Uang Rp 700 Juta Di Mobil Rohadi Tetap Disita KPK

JAKARTA, KOMPAS.com – Majelis hakim pada Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta menetapkan uang sebesar Rp 700 juta yg ditemukan penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di mobil punya Panitera Pengadilan Negeri Jakarta Utara, Rohadi, tetap disita sebagai barang bukti.

Hal tersebut dikatakan Majelis Hakim dalam sidang putusan terhadap Rohadi di Pengadilan Tipikor Jakarta, Kamis (8/12/2016).

“Menimbang permohonan jaksa penuntut umum yg ingin mempergunakan uang tersebut sebagai barang bukti dalam perkara pencucian uang oleh terdakwa. Maka telah selayaknya permohonan jaksa dikabulkan,” ujar Hakim M Idris.

Dalam surat tuntutan, Jaksa KPK meminta agar uang Rp 700 juta tersebut tetap disita. Menurut Jaksa, uang tersebut tak bisa dibuktikan asal-usulnya, sehingga patut dicurigai terkait dengan tindak pidana korupsi.

“Meski di persidangan terdakwa menyampaikan uang itu tak ada kaitan, atau pinjaman dari Sareh Wiyono, terdakwa tak mampu memberikan alat bukti sah berupa kwitansi atau perjanjian pinjaman uang,” ujar Jaksa penuntut KPK ketika membaca surat tuntutan.

Alasan yang lain mengapa uang tersebut patut disita yakni, Rohadi dalam persidangan mengakui bahwa perbuatan menerima suap atas pengurusan masalah seperti yg didakwakan kepadanya tak cuma terjadi kali ini.

(Baca: Pengacara Anggap Uang yg Diterima Rohadi Tak Bisa Pengaruhi Vonis Saipul Jamil)

Rohadi mengaku sudah dua kali menolong orang yang lain dalam memengaruhi putusan hakim.

Selain itu, uang tersebut rencananya mulai digunakan dalam masalah selanjutnya yg juga melibatkan Rohadi sebagai terdakwa.

Selain ditetapkan sebagai tersangka penerima suap, Rohadi juga ditetapkan sebagai tersangka penerima gratifikasi dan tersangka pencucian uang oleh KPK.

Dalam persidangan, Rohadi menyampaikan bahwa uang Rp 700 juta yg ditemukan penyidik KPK ketika operasi tangkap tangan, berasal dari anggota Dewan Perwakilan Rakyat RI Sareh Wiyono.

“Pada 10 Juni 2016, aku ajukan pinjaman ke Pak Sareh. Dia telah seperti Bapak angkat saya,” ujar Rohadi.

Menurut Rohadi, pinjaman uang tersebut bagi membeli sejumlah peralatan rumah sakit yg ia miliki di Indramayu. Uang tersebut masih berada di dalam mobilnya, ketika ia ditangkap oleh petugas KPK.

“Sesuai peraturan Menteri Kesehatan, harus ada peralatan ICU dan kelengkapan IGD,” kata Rohadi.

Rohadi mengaku mengenal Sareh ketika keduanya bekerja di PN Jakarta Utara. Sebelum menjadi anggota DPR, Sareh yaitu hakim.

Meski demikian, Sareh Wiyono membantah sudah meminjamkan uang sebesar Rp 700 juta kepada Rohadi. Menurut Sareh, uang tersebut dipinjam Rohadi dari pengacara bernama Petrus Selestinus.

(Baca: Rohadi Minta kepada Hakim agar Uang Rp 700 Juta Dikembalikan)

Awalnya, Sareh mengakui bahwa Rohadi ingin meminjam uangnya. Namun, karena tak memiliki uang sebanyak itu, Sareh merekomendasikan agar Rohadi meminjam uang kepada Petrus.

Serah terima uang dikerjakan di Apartemen Sudirman Mansion punya Sareh Wiyono.

Rohadi divonis 7 tahun penjara dan denda Rp 300 juta subsider 3 bulan kurungan. Ia terbukti menerima suap dari pengacara dan kakak Saipul Jamil. (Baca: Kasus Suap Saipul Jamil, Rohadi Divonis 7 Tahun Penjara)

Kompas TV Tersangka Rohadi Ajukan Gugatan ke KPK

Sumber: http://nasional.kompas.com

Berikan Komentarmu Disini!!