Persoalan Bonus PON, Pemprov DKI Paling Ketinggalan

JAKARTA, Kompas.com – Pihak Pemprov DKI  ketika ini justru dianggap menjadi yg paling lamban dalam menyelesaikan kontroversi bonus PON XIX/2016 Jawa barat, September lalu.

Setelah tiga bulan PON berakhir, pihak Pemprov DKI belum juga memenuhi janji kepada para anggota kontingen DKI yg berlaga di PON XIX lalu.  

Pada masa Gubernur petahana Basuki Tjahaja Purnama,  penyerahan tali kasih atau bonus bagi anggota kontingen sebenarnya telah mulai dikerjakan pada 19 Oktober, meskipun kemudian diundur pada 27 Oktober, sesuatu hari  sebelum Gubernur petahana mengambil cuti bagi menjalani proses kampanye Pilkada.

Namun setelah itu, harapan penerimaan bonus pada para anggota kontingen semakin  mengabur. Bukan cuma dari waktu penyerahan, tapi juga pada besaran. Pada awal tahun, Gubernur  Basuki sempat melontarkan kontroversi dengan menjanjikan bonus 1 milyar untuk peraih medali emas dengan teknis penyerahan yg berbeda dengan selama ini merupakan melalui Disorda dan KONI. Bonus mulai diserahkan segera ke perkumpulan olah raga.

Rencana kontroversial Ahok ini kemudian seusai PON mengerucut menjadi besaran yg lebih realistis merupakan Rp350 juta buat peraih medali emas, dengan varian yg lebih rendah buat peraih perak dan perunggu, mau pun peraih medali beregu.

Namun setelah beberapa kali penundaan dan cutinya Gubernur petahana, besaran modus jadi dipertanyakan. Pihak Pemprov DKI memakai aturan dari Kemenpora perihal pemberian bonus bagi atlet. Aturan Kemepora menyebut bahwa bonus atlet dalam pertandingan tingkat lokal tak boleh melebihi bonus tingkat nasional yg diberikan bagi ajang SEA Games, Asian Games dan Olimpiade.

Besaran yg kemudian keluar adalah maksimal Rp 200 juta buat peraih medali emas dan varian lebih kecil bagi perak dan perunggu. Hal ini dibenarkan oleh Kabid Binpres Disorda DKI, Tedi Cahyono. Menurut Tedi, segala daerah mulai mengikuti aturan yg diberikan Kemenpora atau terancam sanksi di kemudian hari. “Untuk bonus medali emas memang kita  tak dapat melebih bonus SEA Games, merupakan Rp 200 juta,” kata Tedi, awal minggu ini.

Tedi menyebut mampu saja ada daerah yang lain yg memberikan bonus melebihi ketentuan Kemenpora, namun ada risiko sanksi di kemudian hari. “Kalau sanksi diberikan, kan olah raga daerah itu sendiri yg mulai repot,” ungkapnya.

Namun kebijakan ini tentu sangat mengecewakan para atlet, pelatih hingga pengurus cabang.  Menurut dua pengurus cabang, seharusnya yg digunakan sebagai acuan adalah keputsuan Gubernur sebagai kepala daerah  dan bukan pada ketentuan pemerintah pusat.

Dalam rapat dengan pengurus cabor, Kamis (8/12/2016) tak tercapai kesepatakan antara pihak KONI DKI dengan para pengurus. Pengurus cabor tetap mempertanyakan perubahan besaran bonus serta berlarutnya waktu penyerahan. Pengurus cabor juga mempertanyakan kebijakan KONI DKI menghapus uang Pemusatan Latihan Daerah (Pelatda) DKI akan September 2016 usai berlangsungnya PON.

Menurut mereka, hal ini tak terjadi pada kepengurusan KONI usai berlangsungnya PON XVIII/2012 di Riau lalu, ketika DKI keluar sebagai juara umum. Saat itu atlet Pelatda masih mendapatkan uang bulanan hingga berakhirnya tahun takwim. “Kami masih menerima hingga bulan Desember tahun yg bersangkutan.”

Pembubaran kontingen DKI ke PON XIX/2016 memang baru mulai berlangsung Sabtu (12/10/2016) ini di Hotel Grand Whiz, Kelapa Gading. Para atlet dan pengurus cabang berencana menanyakan kejelasan simpang siurnya kejelasan tentang waktu dan besaran bonus PON DKI setelah cutinya Guberfnur petahana. Kekhawatiran paling besar pada para atlet, pelatih dan pengurus olahraga DKI adalah adanya batas waktu 15 Desember sebelum sisa APBD 2016 dikembalikan.

Pada PON XIX lalu, kontingen DKI Jakarta mengumpulkan 132 emas, 124 perak, dan 118 perunggu. Perolehan medali emas DKI sama dengan kontingen Jawa Timur yg menempati posisi beberapa (132 emas, 138 perak, 134 perunggu). Sementara kontingen Jabar mengumpulkan medali terbanyak dengan 217 emas, 157 perak, dan 157 perunggu dan Jawa Tengah berada di posisi keempat dengan 173 medali. Jawa Tengah mengumpulkan 32 emas, 56 perak, dan 85 perunggu.

Baik Jawa Barat, Jawa Timur dan Jawa Tengah sudah membuat keputusan tentang besaran dan waktu penyerahan bonus PON XIX/2016 dengan cara yg berbeda-beda.

Sumber: http://olahraga.kompas.com

Berikan Komentarmu Disini!!