Saat Jokowi Sentil ESDM Dan Bongkar Penyebab Mahalnya Tarif Listrik

Presiden Joko Widodo baru saja meresmikan proyek infrastruktur energi PLTP (Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi) Lahendong Unit 5 dan 6, serta PLTP Ulubelu Unit 3 di Kecamatan Tompaso, Kabupaten Minahasa. Dalam acara peresmian ini, Jokowi mengeluhkan mahalnya harga listrik di Indonesia, terutama Energi Baru dan Terbarukan (EBT). Hal ini tak sejalan dengan potensi alam yg melimpah di Tanah Air dibanding negara lainnya.Menteri ESDM, Ignasius Jonan juga pernah mengeluhkan tingginya harga listrik Energi Baru Terbarukan (EBT) di Indonesia. Jonan pernah bertemu dengan Menteri Energi Uni Emirat Arab (UEA) Suhail bin Mohammed di penyelenggaraan OPEC dua waktu dulu dan mendapati harga listrik EBT di Saudi jauh lebih murah.”Saya ketemu dengan Menteri Energi UEA, dia masih muda banget. Lalu aku tanyakan, di sana ada energi terbarukan? Dia bilang ada,” ujarnya di Gedung World Trade Center, Jakarta, Kamis (8/12).Lanjutnya, EBT yg dimiliki oleh UAE berupa energi tenaga matahari dengan kapasitas 150 megawatt (MW) dan 200 MW. Lebih mengejutkan, harga listrik dari pemanfaatan EBT tersebut 5-6 kali lebih murah dibanding yg dijual Indonesia.Mantan bos PT KAI ini merasa heran, sebagai salah sesuatu negara dengan produksi minyak terbesar yakni 3 juta barel per hari dan konsumsi cuma 150.000 bph, UEA dapat menciptakan harga listrik yg efisien.”Tenaga matahari 150 MW, harga berapa? 2,99 sen per kilowatt hour (kWh). Kedua 200 MW, itu harganya 2,42 sen per kWh,” jelas dia.Bahkan, UEA menargetkan menciptakan listrik dari EBT dengan kapasitas sebesar 5.000 MW. Besarnya kapasitas tersebut, membuat mereka mampu menjual listrik kepada masyarakat sebesar 2,25 sen per kWh.Lalu apa sebenarnya yg membuat harga listrik EBT di Indonesia begitu mahal. Jokowi membeberkannya di Manado kemarin, silakan klik selanjutnya.
Sumber: http://www.merdeka.com

Berikan Komentarmu Disini!!